Fly.io menarik perhatian developer dengan proposisi yang unik: jalankan container Docker kamu di server yang tersebar di 30+ lokasi global — dekat ke user, performa tinggi, billing per detik.
Kedengarannya sempurna. Tapi ada kurva belajar yang signifikan, hidden costs yang tidak selalu terlihat di awal, dan model pricing yang bisa mengejutkan.
Artikel ini membandingkan Fly.io dan Helipod secara jujur untuk membantu developer Indonesia memilih yang tepat.
Sekilas Tentang Keduanya
Fly.io adalah platform yang menjalankan Docker containers di infrastruktur bare-metal mereka sendiri yang tersebar di 30+ region global. Fokusnya pada edge deployment — server sedekat mungkin ke user. Pricing-nya pure pay-as-you-go, billing per detik.
Helipod adalah platform deploy modern dengan abstraksi yang lebih tinggi — tidak perlu tahu Docker, cukup connect repo dan deploy. Pricing berbasis plan bulanan + resource harian dalam Rupiah.
Perbandingan Harga
Fly.io Pricing 2026
Fly.io menggunakan pure pay-as-you-go sejak Oktober 2024, menghilangkan subscription plans sebelumnya. Compute dihitung per detik sejak machine mulai hingga berhenti.
Harga compute mulai sekitar $0.0027/jam untuk instance shared-CPU 256MB, atau sekitar $1.94/bulan jika berjalan terus-menerus.
Tapi ada hidden costs yang perlu diperhatikan:
Dedicated IPv4 address: $2/bulan per app — diperlukan untuk banyak deployment production tapi mudah terlupakan saat estimasi biaya.
Persistent volumes ditagih per jam bahkan saat machine berhenti. Volume 3GB yang terlupakan di region Frankfurt tetap ditagih terus.
Volume snapshots mulai ditagih sejak Januari 2026 — strategi backup yang mengandalkan auto-snapshots sekarang menimbulkan biaya tambahan.
Egress bandwidth mulai $0.02/GB untuk North America dan Europe, hingga $0.12/GB untuk Africa dan India.
Managed Postgres Fly.io (per bulan):
| Plan | CPU | Memory | Harga/bulan |
|---|---|---|---|
| Basic | Shared-2x | 1GB | $38 |
| Starter | Shared-2x | 2GB | $72 |
| Launch | Performance-2x | 8GB | $282 |
Jadi untuk satu app Laravel + PostgreSQL di Fly.io:
- 1 machine shared (512MB): ~$3/bulan
- Managed Postgres Basic: $38/bulan
- Dedicated IPv4: $2/bulan
- Total: ~$43/bulan = ~Rp 705.000/bulan
Atau pakai Fly Postgres self-managed (bukan managed):
- 1 machine app: ~$3/bulan
- 1 machine Postgres: ~$3/bulan
- 2x IPv4: $4/bulan
- Total: ~$10/bulan = ~Rp 164.000/bulan — tapi kamu kelola Postgres sendiri
Helipod Pricing 2026
- 1 pod Laravel (0.5 vCPU + 512MB): ~Rp 42.000/bulan
- 1 pod PostgreSQL (0.5 vCPU + 512MB): ~Rp 42.000/bulan
- Total: ~Rp 84.000/bulan
- Semua dalam Rupiah, transfer bank lokal atau QRIS
- Tidak ada IPv4 fee terpisah, tidak ada egress fee antar pod
Perbandingan Fitur Lengkap
| Fitur | Helipod | Fly.io |
|---|---|---|
| Harga | IDR, predictable | USD, usage-based |
| Pembayaran | Transfer bank lokal | Kartu kredit internasional |
| Free tier | ✅ (7 hari) | ❌ (trial 2 VM hours/7 hari) |
| Auto-detect framework | ✅ Helipack (zero config) | ❌ Butuh Dockerfile |
| Custom Dockerfile | ✅ | ✅ (required untuk semua) |
| Terminal ke container | ✅ Browser | ✅ fly ssh console |
| Persistent volume | ✅ | ✅ ($0.15/GB/bulan) |
| Custom domain | ✅ | ✅ |
| SSL otomatis | ✅ | ✅ |
| Metrics/monitoring | ✅ Built-in | ✅ Built-in |
| Multi-region | 🔜 Coming soon | ✅ 30+ regions |
| Server Asia | 🔜 Singapore soon | ✅ Singapore, Tokyo, Sydney |
| Server Indonesia | 🔜 Coming soon | ❌ |
| Global edge | ❌ | ✅ Anycast network |
| IPv4 dedicated | ✅ Included | 💰 $2/bulan extra |
| Egress fee antar pod | ❌ Gratis | 💰 Ditagih |
| Learning curve | Rendah | Tinggi (butuh Docker) |
| CLI required | ❌ | ✅ flyctl wajib |
| Managed database | ✅ PostgreSQL | ✅ Postgres, Redis, Tigris |
Perbedaan Fundamental: Zero Config vs Docker Required
Ini perbedaan terbesar antara Helipod dan Fly.io.
Fly.io mengharuskan Docker. Setiap deployment di Fly.io membutuhkan Dockerfile atau image Docker yang sudah ada. Kamu juga perlu familiar dengan flyctl CLI untuk deploy, scale, SSH ke container, dan manage secrets.
Contoh workflow Fly.io untuk deploy Laravel:
# Install flyctl
curl -L https://fly.io/install.sh | sh
# Login
fly auth login
# Launch (akan tanya beberapa pertanyaan)
fly launch
# Perlu tulis Dockerfile sendiri!
# Perlu konfigurasi fly.toml
# Deploy
fly deploy
# Set secrets
fly secrets set APP_KEY=base64:xxx DB_PASSWORD=secret
# SSH ke container
fly ssh console
Helipod tidak memerlukan Dockerfile atau CLI.
1. Login ke helipod.io
2. New Project → pilih repo
3. Set env vars di tab Variables
4. Klik Deploy
5. Selesai
Untuk developer yang sudah expert Docker, Fly.io memberikan kontrol yang lebih besar. Untuk developer yang mau fokus ke kode tanpa urusan infra, Helipod jauh lebih efisien.
Server Location untuk Developer Indonesia
Fly.io sudah punya server di Singapore dan Tokyo — latency dari Jakarta sekitar 10–20ms dan 50–70ms. Ini keunggulan signifikan untuk aplikasi yang melayani user Indonesia dan Asia Tenggara.
Helipod saat ini hanya tersedia di Germany (~170ms dari Jakarta). Server Indonesia dan Singapore dalam pengembangan (coming soon). Begitu aktif, Helipod akan mengungguli Fly.io untuk latency lokal Indonesia.
Saat artikel ini ditulis, Fly.io unggul untuk latency Asia. Tapi untuk payment dalam IDR dan kemudahan setup, Helipod tetap pilihan yang lebih mudah untuk developer Indonesia.
Hidden Costs Fly.io yang Perlu Diperhatikan
Berdasarkan dokumentasi resmi Fly.io, beberapa biaya yang sering mengejutkan:
Dedicated IPv4: $2/bulan per app. Banyak deployment production butuh ini, tapi tidak selalu terlihat saat estimasi awal.
Persistent volume tetap ditagih: Volume ditagih per jam bahkan saat machine berhenti. Volume yang terlupakan tetap mengeluarkan biaya.
Volume snapshots: Mulai ditagih sejak Januari 2026 — backup strategy perlu diperhitungkan ulang.
Inter-region private networking: Mulai Februari 2026, traffic antar region ditagih sama seperti machine rates.
Managed Postgres mahal: Plan Basic Managed Postgres $38/bulan adalah titik masuk yang tinggi. Self-managed Postgres lebih murah tapi perlu maintenance sendiri.
Fly.io: Untuk Siapa?
Fly.io paling cocok untuk:
Developer expert Docker yang butuh kontrol penuh atas container mereka dan familiar dengan konsep Docker image, volumes, dan networks.
Aplikasi global yang butuh deployment di banyak region sekaligus untuk latency rendah ke user di berbagai belahan dunia.
Tim dengan DevOps knowledge yang bisa memanfaatkan fleksibilitas Fly.io untuk konfigurasi yang sangat spesifik.
Aplikasi stateless, multi-region yang butuh auto-scaling berbasis metrics di berbagai lokasi.
Helipod: Untuk Siapa?
Helipod lebih cocok untuk:
Developer Indonesia yang butuh platform dengan harga IDR dan pembayaran via transfer bank lokal atau QRIS tanpa kartu kredit internasional.
Developer yang tidak mau urusin Docker — cukup push kode, Helipack yang generate Dockerfile optimal.
Startup dan freelancer yang butuh deploy cepat tanpa investasi waktu belajar infrastruktur.
Aplikasi dengan target user Indonesia — begitu server Indonesia aktif, latency akan optimal.
Kesimpulan
Fly.io adalah platform yang powerful untuk developer yang butuh global edge deployment dan familiar dengan Docker. Tapi untuk developer Indonesia yang mau deploy dengan cepat tanpa kerumitan, hidden costs Fly.io bisa mengejutkan dan kurva belajarnya tidak trivial.
Helipod menawarkan jalan yang lebih mudah: zero config, harga IDR, transfer bank lokal atau QRIS, dan server Indonesia yang segera hadir.
Mulai gratis di helipod.io — tidak perlu kartu kredit, tidak perlu Dockerfile.
Baca juga: Helipack: Dockerfile Otomatis · Helipod vs Railway · Helipod vs VPS
Punya pertanyaan? Hubungi kami di support@helipod.id atau bergabung ke komunitas di hangar.helipod.io.